SD Muhammadiyah 2 Wonopeti Gelar Edukasi Digital Parenting: Pengaruh Gadget Terhadap Kesehatan Otak, Karakter, dan Minat Belajar
Galur, 27 September 2025 – Dalam rangka membekali para orang tua menghadapi tantangan pengasuhan di era modern, SD Muhammadiyah 2 Wonopeti menggelar sesi edukasi bertajuk "Parenting Digital: Pengaruh Gadget Terhadap Kesehatan Otak, Karakter, dan Minat Belajar" pada Sabtu, 27 September 2025, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini menghadirkan Selvia Eka Sari, M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Selvia Eka Sari, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa sekolah dasar anak-anak saat ini merupakan Generasi Alpha yang tumbuh dan berkembang bersama teknologi digital. Penggunaan gadget seperti smartphone dan tablet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas belajar maupun hiburan sehari-hari.
Sisi Positif vs Tantangan Pengasuhan Gadget
Di satu sisi, gadget memberikan dampak positif seperti meningkatkan kreativitas, melatih motorik halus melalui interaksi layar sentuh, membantu belajar mandiri melalui aplikasi edukatif, serta mendukung adaptasi teknologi masa depan.
Namun di sisi lain, muncul berbagai fenomena yang kurang menguntungkan. Aktivitas fisik anak mulai digantikan oleh game , waktu makan berubah menjadi momen menonton tayangan digital, dan anak cenderung menganggap tugas sekolah sebagai hal yang membosankan dibandingkan konten media yang cepat dan menarik.
Selvia Eka Sari, M.Psi., Psikolog juga menyoroti beberapa kekeliruan orang tua dalam pengasuhan digital, di antaranya:
-
Menjadikan gadget sebagai solusi instan untuk menenangkan anak yang tantrum atau rewel.
-
Memberikan contoh buruk dengan tetap menggunakan HP saat makan bersama.
-
Tidak membatasi durasi penggunaan dan kurang mengawasi konten yang diakses anak.
Dampak pada Otak, Karakter, dan Prestasi Belajar
Dari sudut pandang psikologi dan neurosains, otak anak berkembang pesat hingga usia 25 tahun. Paparan gadget berlebihan yang memicu kecanduan "dopamin instan" dapat mengganggu pembentukan jalur saraf, menurunkan motivasi belajar, serta mengganggu kualitas tidur akibat radiasi cahaya biru.
Multitasking digital dan paparan layar yang berlebihan terbukti dapat menurunkan kemampuan fokus serta konsentrasi belajar anak hingga 40%,” jelas Selvia Eka Sari, M.Psi., Psikolog. Selain penurunan prestasi akademik, interaksi tatap muka yang buruk juga berdampak pada penurunan empati, memicu sifat impulsif, serta meningkatkan risiko ketergantungan digital.
Strategi Praktis Parenting Digital
Sebagai bentuk penanganannya, orang tua diimbau untuk menerapkan langkah-langkah praktis Parenting Digital di rumah:
-
Tetapkan Aturan Screen Time: Buat kesepakatan jadwal dan durasi penggunaan gadget yang jelas.
-
Jadilah Teladan ( Role Model ): Memberikan penggunaan teknologi yang sehat dengan memberikan perhatian penuh saat berkomunikasi dengan anak.
-
Sediakan Alternatif Kegiatan: Ajak anak melakukan aktivitas fisik, membaca buku bergambar, atau bermain gim edukatif non-layar.
-
Pendampingan Aktif: Mendampingi anak saat berinternet, memilih konten edukatif, serta menggunakan fitur parental control.
-
Jadwal Bebas Gadget: Tetapkan area dan waktu khusus tanpa gadget, seperti saat makan keluarga dan sebelum tidur.
Sinergi Antara Sekolah dan Rumah
Pada sesi akhir, ditekankan pentingnya sinergi antara kebijakan sekolah dan kontrol orang tua di rumah. Komunikasi berkala antara guru dan orang tua menjadi kunci penting dalam memadukan perkembangan anak secara menyeluruh.
“Gadget adalah alat, teman, dan bukan tuan. Kunci utamanya ada pada keseimbangan serta kehadiran penuh orang tua dalam mendampingi anak-anak di seluruh dunia digital,” pungkas Selvia Eka Sari, M.Psi., Psikolog.
Komentar
Posting Komentar